Ia telah kembali ke kamarnya.
Virginea mengantuk terlalu cepat malam ini, pikirku.
Pesta ulang tahunnya yang ke-10 berlangsung cukup cepat. Pesta ulangtahun ke-10 yang kesembilan kalinya, hitungku.
Hanya beberapa orang dari Atkinson Library dan LAB yang hadir. Orang-orang Kementrian di Lakecity yang kuundang semuanya mewakilkan kehadiran mereka lewat surat. Tak apa. Memang hanya sampai sekian jauhlah mereka bisa meninggikan dirinya. Tahun-tahun ini memang menjadi catatan baru buatku. Orang-orang kementrian sebelumnya lebih dapat menjaga wibawa mereka dengan menghormati setiap undangan yang datang.
Virginea anakku terlihat tersenyum seperti biasa di pesta. Mau memperkenalkan dirinya sendiri kepada orang-orang itu, malah. Salah satu kelebihannya. Namun ada yang kurasakan sepi dalam bahasa tubuhnya. Sepi, tanpa teman.
Aku merasakan itu lebih dari sebelumnya. Usia Virginea dalam tubuh seperti ini memang tak mungkin dapat disusul oleh teman-temannya yang nir-abadi.
Aku sudah pernah membahas hal ini dengannya dulu, dulu sekali, tepat ketika ia mencapai usia 20 tahun dalam tubuh yang sama.
“Ayah?”. Suaranya memanggilku dari langit-langit ruangan.
“Ya, sayang?” aku menengadah. Ia duduk di ujung sandaran balkon. Tempat yang tak biasa untuk manusia, apalagi anak se’umur’nya.
“Aku bisa mendengar pikiranmu lagi”.
Wajar, pikirku. Aku sudah bisa melakukan pembacaan pikiran sejak tahun ke 100 hidupku sebagai vampir.
Ia terlihat amat khawatir.
“Ada yang harus kusampaikan tentang ‘teman’ ini, yah”.
Tubuhnya turun perlahan nyaris melayang, seperti bulu.
Aku segera sadar, ada pembacaan pikiran yang terlewat olehku, tersembunyi darinya belakangan ini.
Ia menceritakan mimpinya kepadaku. Ia pun menusukkan jarum ke jarinya dan setitik darah keluar dari situ, tanpa menutup kembali secepat dulu.
Hidup abadi kami berakhir, walau kekuatan yang kami peroleh setelah berabad-abad menumpuk ilmu tak pernah surut kembali.
Hatiku kegirangan. Seluruh sejarah hidup kami mengalir kembali setelah berabad-abad hidup dalam ujian keabadian.
Rasa tertekan sebagai vampir yang kami miliki hilang, lenyap, kembali hidup.
Ia juga. Kami berdua berdansa dalam pikiran masing-masing.
“Apakah ini berarti aku mulai dapat memiliki teman, ayah?”
Aku mengangguk padanya.
Namun segera aku mengesampingkan perasaan bahagia ini. Kubiarkan Virginea hanya menikmati perasaan senang yang kami peroleh, setelah hidup kembali. Ada yang lain yang kupikirkan setelah terjadinya nir-abadi ini. Pastilah akan terjadi sesuatu antara Altaira dan Gaia. Tidak harus ketidak seimbangan. Sesuatu yang lain, lebih besar. Sejarah akan memasuki babak baru setelah ini. Setelah beberapa abad, saatnya bersiap-siap memanggil kembali para kandidat Altaira Soldiers.
Aku menyalakan peta bintang di langit-langit ruangan ini. Rasi Scorpio dan Taurus terlihat saling beradu di sisi kiri dan kanan.
Aku bersiap-siap menulis kembali surat undangan mendaftar Lake Academia. Cukup 2 orang. 3 dengan Virginea.
Tahun ini adalah tahun yang khusus.
Ada sesuatu yang besar akan terjadi.
Benakku melayang ke Dromabia. Akankah Virginea dapat pulang kembali kepada orang tua aslinya?
Bukan aku, Drakaole Olbrian.
